Sejarah lagu "Buruh Tani" dan "Darah Juang" yang bergema di hampir seluruh demonstrasi buruh dan mahasiswa. tirto.id - Berbicara tentang ketidakadilan, tuntutan tentang kesetaraan, sampai kemiskinan akibat kebusukan penguasa, serta membangkitkan jiwa perlawanan. Mungkin itu adalah tema secara keseluruhan dari lagu protes.
Tempat padi terhampar. Samudranya kaya raya. Tanah kami subur tuan. Di negri permai ini. Berjuta Rakyat bersimbah rugah. Anak buruh tak sekolah. Pemuda desa tak kerja. Mereka dirampas haknya. Tergusur dan lapar.
Mereka dirampas haknya tergusur dan lapar bunda relakan darah juang kami pada mu kami berbakti padamu kami mengabdi… Di negeri permai ini Berjuta Rakyat bersimbah ruah Anak kurus tak sekolah Pemuda desa tak kerja… Mereka dirampas haknya tergusur dan lapar bunda relakan darah juang kami tuk membebaskan rakyat…
F G Am pemuda desa tak kerja [Chorus] F C mereka dirampas haknya Dm Am tergusur dan lapar Dm Am Bunda, relakan darah juang kami F G Am untuk membebaskan rakyat
Dikutip dari buku Penakluk Rezim Orde Baru: Gerakan Mahasiswa 1998, tulisan Muridan Satrio, lagu "Darah Juang" diciptakan pada awal 1990-an. Lagu ini populer di kalangan aktivis mahasiswa, terutama di Yogyakarta, kemudian berkembang ke daerah-daerah lain. Saat itu, pengorbanan adalah harga yang pasti harus dibayar.
TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK BARAT - Lagu Darah Juang dipopulerkan oleh John Tobing. Lagu Darah Juang ini dianggap sebagai simbol perlawanan dan kobaran semangat juang para aktivis mahasiswa.
.
lagu mereka dirampas haknya